Ramadhan 6 Tahun Lalu

Dulu waktu masih SMP dan SMA, berencana berjilbab saat nanti kalau sudah menikah atau sudah punya anak. Saya dibesarkan dari orang tua dan keluarga yang baik-baik saja. Orang tua sudah mengajarkan agama dari kecil. Bapak saya terutama, sangat keras jika mengajarkan. Kami bersaudara bisa dibawakan parang jika menunda atau tidak melaksanakan shalat atau disindir langsung sudah pindah agama. Begitulah Bapak, kerasnya beliau sukses membuat saya bukan hanya jadi anak bungsu yang dimanja tapi juga jadi anak emasnya karena selalu mengerjakan shalat 5 waktu dan tepat waktu. Saat masih kecil dulu.

Beranjak remaja hingga dewasa, saya mulai mengenal dunia luar. Kian bertambahnya teman, jauh dari keluarga, dan pengalaman membuat saya tidak semakin bijak dalam bertindak. Anak rantau yang amatir. Saya hanya melakukan hal yang disuka tanpa berfikir panjang dan memilah dulu mana yang benar dan yang salah. Saya jauh dari Tuhan. Tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, tidak ingin menyalahkan keadaan Bapak berpulang saat saya masih butuh pelajaran dan nasihat-nasihat yang lebih banyak lagi. Satu-satunya yang bisa saya salahkan adalah diri saya sendiri.

Kalau tidak pernah salah, maka tidak pernah tau mana yang benar. Belajar dari kesalahan, sadar bahwa diri sendirilah yang bisa membuat perubahan untuk bisa membuatkan diri aman dan bahagia maka saya mendekatkan diri dengan Tuhan, saya malu dengan Dita yang kecil dulu.  Dari sana, dari hanya sebuah kain yang menutupi kepala, meninggalkan pakaian terbuka dan ‘minimalis’, saya bisa menemukan lingkungan pertemanan yang baru, mengetahui lebih jauh lagi seperti apa itu sabar dan ikhlas, memahami bagaimana menjadi orang yang lebih bijak dan dewasa, dekat dengan Ibu dan keluarga, hingga menemukan jodoh yang saya minta dan butuhkan.

Ilmu agama sampai saat ini masih sangat dangkal, selama 6 tahun berjilbab pun masih melakukan banyak kesalahan, tidak bersih dari dosa. Saya mulai mengerti, di dunia kita dituntut untuk belajar. Disunnahkan belajar ilmu dunia, diwajibkan belajar ilmu agama. Serta belajar dari pengalaman hidup atas segala sesuatu yang diri sendiri telah dan sedang lakukan lalu kemudian mengakui memohon ampunanNya. Akan menjadi lebih baik lagi jika pembelajaran atau ilmu yang sudah didapatkan tidak menjadikan kita semakin mudah untuk menilai dan menyalahkan orang lain. Tawadhu. (self reminder)

Yang saya lakukan 6 tahun lalu adalah pilihan. Pilihan untuk menjalankan kewajiban yang diperintahkan Tuhan. Pilihan untuk membuat orang disekitar senang. Pilihan untuk membuat Bapak tersenyum kembali.

Ramadan kareem!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s